Puluhan Santri Aceh Singkil Tumbang,Diduga Keracunan Menu Makan Bergizi Gratis -->

Live berita akrual

Monetag_ads

Puluhan Santri Aceh Singkil Tumbang,Diduga Keracunan Menu Makan Bergizi Gratis

12/02/26


ACEH SINGKIL – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Aceh Singkil tengah menjadi sorotan setelah puluhan santri dilaporkan mengalami gejala keracunan massal pada Rabu (11/2). Setidaknya 33 santri dari Pesantren Darul Mustofa dan Bunga Al-Qur’an harus dilarikan ke RSUD Aceh Singkil setelah mengeluhkan pusing, mual, dan muntah-muntah.


Berdasarkan keterangan Akmal, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Nasabe Sajan Yatim, distribusi makanan berupa mi goreng, ayam suwir, nugget tempe, sawi, dan semangka dilakukan sejak pukul 10.00 WIB. Meski wadah makanan (ompreng) sudah diambil kembali pada siang hari, para santri dilaporkan baru menyantap hidangan tersebut sekitar pukul 13.30 WIB.


Indikasi adanya masalah pada kualitas pangan sebenarnya sudah muncul sejak pagi. "Ada guru dari sekolah lain yang melapor bahwa makanan tercium basi sekitar pukul 10.00 WIB. Kami langsung instruksikan agar makanan tersebut tidak dikonsumsi," ungkap Akmal, Kamis (12/2).


Merespons kejadian ini, Dinas Kesehatan Aceh Singkil bergerak cepat dengan melakukan visitasi ke dapur penyedia. Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), M. Raja Maringin, menegaskan bahwa operasional SPPG tersebut resmi dihentikan untuk sementara waktu.


"Kami mendalami alur proses dari pengolahan hingga pengemasan. Sampel makanan dan muntahan korban sudah dikirim ke laboratorium BPOM untuk memastikan penyebab pastinya," ujar Raja Maringin.


Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, menyatakan keprihatinannya dan memerintahkan pengawasan ketat terhadap seluruh dapur penyedia program MBG. Ia memberikan peringatan keras agar standar kebersihan dan kesegaran makanan menjadi prioritas utama.


"Pemerintah akan memperketat supervisi agar insiden serupa tidak terulang. Kami meminta masyarakat tetap tenang dan tidak berspekulasi hingga hasil uji laboratorium keluar," tegas Oyon.


Hingga saat ini, pihak berwenang masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari BPOM untuk menentukan apakah terdapat unsur kelalaian atau kontaminasi bakteri dalam proses penyajian makanan tersebut.(Maksum)