ACEH SINGKIL – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 menjadi momentum krusial bagi insan pers di Kabupaten Aceh Singkil untuk meneguhkan kembali peran strategis jurnalis dalam pembangunan bangsa. Mengusung tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, HPN tahun ini dimaknai sebagai ajang refleksi mendalam guna menjaga marwah profesi di tengah tantangan zaman.
Ketua DPD Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Kabupaten Aceh Singkil, Muklis, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh rekan seprofesi. Ia berharap peringatan ini menjadi titik balik kebangkitan kualitas jurnalisme, baik di tingkat lokal maupun nasional.
“HPN adalah hari istimewa bagi kita semua. Momentum ini harus menjadi penyemangat agar kita terus memberikan yang terbaik bagi masyarakat melalui sajian informasi yang aktual dan terpercaya,” ujar Muklis, Jumat (6/2/2026).
Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap kali tumpang tindih, Muklis menekankan pentingnya kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan UU Pers No. 40 Tahun 1999. Menurutnya, integritas adalah fondasi utama agar kepercayaan publik terhadap media tetap terjaga.
Untuk mewujudkan visi "Pers Sehat", Muklis menggarisbawahi tiga pilar utama yang harus dipegang teguh oleh jurnalis, khususnya di Aceh Singkil:
Solidaritas: Memperkuat hubungan dan kekompakan antar sesama jurnalis.
Akurasi: Menyajikan berita yang berimbang, tervalidasi, dan bebas dari unsur hoaks.
Edukasi: Menjalankan fungsi pers sebagai pilar demokrasi serta agen penggerak pembangunan daerah.
“Kebersamaan sesama insan pers harus senantiasa dijaga. Marwah jurnalis tidak boleh luntur karena profesi ini diamanatkan oleh undang-undang untuk menyampaikan kebenaran,” tegas Muklis.
Sebagai organisasi profesi, JWI Aceh Singkil menyatakan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pemerintah, sektor swasta, dan elemen masyarakat. Langkah ini diambil guna menciptakan iklim komunikasi yang sehat dan konstruktif bagi kemajuan daerah.
Menutup pernyataannya, Muklis juga menaruh harapan besar pada generasi muda jurnalis. Ia menilai energi segar dan perspektif baru dari jurnalis muda sangat dibutuhkan untuk memperkuat fondasi demokrasi serta meningkatkan kualitas jurnalisme Indonesia di masa depan.(Maksum)

