Menelusuri Jejak Sejarah "Temetok":Tradisi Khitan Simbol Kasih Sayang di Singkil -->

Live judul

Puasa


 

berita akrual

Monetag_ads

Menelusuri Jejak Sejarah "Temetok":Tradisi Khitan Simbol Kasih Sayang di Singkil

21/01/26


ACEH SINGKIL – Masyarakat Singkil memiliki kekayaan adat yang sarat akan makna filosofis, salah satunya adalah prosesi Temetok atau Menjatoh. Tradisi yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dalam pesta khitanan ini, ternyata lahir dari sebuah peristiwa spontanitas yang penuh kearifan di masa lampau.


Tokoh Masyarakat Kemukiman Kuta Simboling, Bapak Masudin MW Tinambunan, mengungkapkan asal-usul rangkaian adat ini saat diwawancarai pada Rabu (21/1/2026). Menurut beliau, pada mulanya Temetok belum masuk dalam susunan prosesi adat setelah sesi makan bersama (mangan adat).


Inisiatif Brilian Sang Janang


Lahirnya tradisi ini bermula saat seorang Janang (petugas perwakilan ahli bait) secara spontan menyampaikan kepada Raja dan majelis adat bahwa anak yang sedang dipestakan akan segera menjalani prosesi khitan.


"Raja sempat terkejut karena penyampaian ini murni inisiatif Janang, bukan pesanan dari orang tua si anak. Namun, Raja melihat ini sebagai ide yang brilian," ujar Masudin.


Raja menyadari bahwa prosesi khitan—yang melibatkan pengeluaran darah—tentu menimbulkan kecemasan bagi sang anak. Secara bijaksana, Raja kemudian meminta Janang untuk menghadirkan Bapa Puhun (paman dari pihak ibu) ke hadapan majelis adat.


Peran Sentral Puhun dan Pemberian Barang Berharga


Dalam sidang majelis tersebut, Raja memerintahkan Bapa Puhun untuk mengawali prosesi tepung tawar dan penaburan beras kuning. Sebagai bentuk penghormatan kepada Raja, Bapa Puhun memberikan contoh dengan menyerahkan barang berharga yang ia pakai saat itu, yakni sebuah cincin, kepada keponakannya di depan khalayak.


Langkah ini kemudian diikuti oleh kerabat lainnya sesuai susunan famili, mulai dari Anak Bayo (menantu pihak bapak), Bapa Membekhu (suami dari bibi pihak ibu), hingga Bapa Penguda (saudara kandung ayah). Mereka memberikan sumbangan berupa barang atau uang sesuai kemampuan masing-masing.


Filosofi dan Keberkahan


Setelah prosesi tepung tawar selesai, Raja memanggil kembali Bapa Puhun untuk menghitung hasil sumbangan. Hasil tersebut diserahkan kepada Inang Puhun di bawah pelaminan, yang kemudian diteruskan kepada orang tua anak.


Masudin MW Tinambunan menjelaskan bahwa prosesi Temetok ini memiliki filosofi mendalam bagi tumbuh kembang sang anak.


"Filosofinya adalah mengajarkan anak untuk mengenal silsilah familinya dan memahami adat istiadat sejak dini. Selain itu, secara psikologis, keramaian dan pemberian hadiah ini bertujuan mengurangi rasa cemas anak yang akan dikhitan," jelasnya.


Tradisi ini bukan sekadar pengumpulan materi, melainkan doa bersama demi keselamatan dan keberkahan agar sang anak selamat dalam proses khitan. Hingga kini, Temetok terus dijaga sebagai warisan budaya masyarakat Singkil yang disusun secara teratur dalam setiap hajatan pesta khitanan.(Maksum)