MBG, dibanding Pengorbanan Seorang Ibu
0 menit baca
MBG, dibanding Pengorbanan Seorang Ibu
Oleh: Budayawan RM. Sutomo Sastro Kusumo
Jakarta.Benuapost Nusantara.com
Presiden Prabowo Subianto pernah menegaskan dengan tegas: “Memberi makan rakyat adalah hal yang paling mendasar dan tidak ada yang lebih penting daripada itu. Orang yang perutnya lapar jika tidak segera diisi bisa mati.” Pernyataan ini benar adanya, pemenuhan gizi dan pangan adalah syarat mutlak kehidupan. Namun, di balik niat mulia itu, ada realitas yang sering kali terabaikan: sebelum ada program apa pun, ketahanan gizi anak Indonesia sudah terjamin oleh sosok paling hebat di dunia, yaitu Ibu.
Ada satu kalimat yang sangat menyentuh hati, sekaligus menjadi cermin kenyataan di masyarakat:
“Sebelum ada program MBG, anak-anak Indonesia sudah baik-baik saja. Ibu-ibu mereka setiap pagi sudah bangun lebih awal, menyiapkan sarapan dan makanan sepenuh hati demi buah hatinya. Jangan pernah menghina atau meremehkan pengorbanan seorang ibu.”
Kalimat ini bukan sekadar luapan perasaan, tapi fakta sosial yang didukung data. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, 93,7% rumah tangga di Indonesia sudah memenuhi kebutuhan konsumsi pangan. Artinya, lebih dari 9 dari 10 keluarga di negeri ini sudah mampu memberi makan anaknya sendiri dengan baik, sehat, dan penuh kasih sayang. Peran ibu sebagai penjaga gizi keluarga telah berjalan efektif turun-temurun, jauh sebelum istilah Makan Bergizi Gratis terdengar. Masalah gizi buruk atau kurang gizi saat itu hanya ada di kisaran 8,4%, dan itu pun terpusat pada kelompok miskin ekstrem atau daerah terpencil, bukan pada seluruh anak Indonesia.
Lalu, mengapa program ini kemudian menuai banyak kritik tajam dan dianggap keliru arahnya?
Sejak digulirkan tahun 2025, program MBG dialokasikan anggaran sebesar Rp 167 triliun untuk kurun waktu 2025–2029. Angka yang luar biasa besar, diambil dari keringat dan pajak rakyat. Namun, apa hasilnya di lapangan? Laporan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta berbagai temuan jurnalistik di lebih dari 300 kabupaten/kota memaparkan fakta yang memilukan:
Pertama, dana triliunan ludes tanpa jejak manfaat.
Uang yang sudah dicairkan tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas gizi anak. Justru isu yang paling banyak beredar di masyarakat adalah istilah pedih: “Dimakan gerondong BGN”. Dana raksasa itu dikabarkan hilang, tidak tercatat, atau hanya berputar di kalangan tertentu, sementara anak-anak yang seharusnya menerima manfaatnya justru tidak merasakan apa-apa. Ini bukan pelayanan, melainkan pemborosan uang negara yang tidak bertanggung jawab.
Kedua, makanan yang disajikan jauh di bawah standar masakan ibu.
Banyak laporan dari orang tua, guru, dan anak-anak sendiri: makanan dari program ini sering kali tidak sehat, tidak higienis, porsinya sedikit, rasanya tidak enak, bahkan ada yang menyebabkan sakit perut. Bandingkan dengan apa yang disiapkan ibu di rumah. Ibu tahu selera anaknya, ibu menjaga kebersihan dengan teliti, ibu menyesuaikan makanan dengan kondisi tubuh anaknya. Di sana ada kasih sayang, bahan utama yang tidak bisa dibeli dengan uang triliunan rupiah. Program MBG ini seolah ingin mengganti kasih sayang itu dengan piring makanan yang asal jadi. Ini tidak adil, dan ini meremehkan kemampuan ibu-ibu Indonesia.
Ketiga, salah sasaran secara besar-besaran.
Masalah gizi di Indonesia sebenarnya adalah masalah kelompok kecil: keluarga sangat miskin dan daerah sulit terjangkau. Namun, MBG justru digelar serentak untuk semua anak sekolah, baik yang mampu maupun yang tidak. Artinya, kita menghamburkan ratusan triliun rupiah untuk memberi makan anak-anak yang sebenarnya sudah kenyang dan bergizi dari rumah. Ini ibarat memberi bantuan beras ke orang yang punya gudang beras, sementara orang yang benar-benar lapar di sudut sana malah terabaikan.
Ada satu pesan tegas untuk mereka yang masih memuji-muji program ini di mimbar, di rapat mewah, atau berkoar-koar di media sosial:
“Tolong turun ke lapangan. Survei ke pelosok desa, ke perbatasan, ke daerah yang sulit dijangkau. Jangan hanya melihat kemegahan program di Jakarta atau kota besar saja.”
Di kota besar, mungkin terlihat rapi, makanannya terlihat bagus di foto. Tapi di pelosok? Dana tidak sampai, makanan tidak ada, atau kualitasnya sangat buruk. Di sanalah letak kegagalan sebenarnya.
Kesimpulan saya sebagai budayawan:
Niat memberi makan rakyat itu luhur, sangat luhur. Tapi pelaksanaan MBG hari ini salah sasaran, boros, dan penuh ketidakadilan. Program ini tidak hanya membuang uang rakyat yang jumlahnya fantastis, tetapi yang lebih menyakitkan: ia menafikan peran mulia ibu Indonesia.
Sejak zaman nenek moyang, ketahanan bangsa ini bertumpu pada dapur ibu. Di tangan merekalah gizi anak-anak terjamin, tanpa dibayar, tanpa pamrih, dan penuh cinta.
Uang triliunan yang hilang itu seharusnya digunakan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, membantu mereka yang benar-benar tidak mampu, membangun puskesmas, atau memajukan pertanian lokal. Bukan membuat program besar-besaran yang hasilnya nihil, hanya menguntungkan oknum, dan menyakiti hati para ibu yang sebenarnya sudah bekerja jauh lebih baik dari negara.
Jangan pernah menghina pengorbanan seorang ibu. Karena percayalah, sebelum ada program apa pun, anak-anak Indonesia sudah tumbuh sehat, kuat, dan cerdas, berkat masakan kasih sayang dari ibunya.(Red)
