Siang berganti malam, tumbuhan yang semula menghasilkan oksigen bersiap membuang racun di malam hari, evolusi dan revolusi bumi terjadi tanpa henti, sistem-sistem yang ada di dalam tubuh setiap organisme bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing, sebagian binatang berhenti dari aktivitasnya dan bersiap untuk hari esok, di sisi lain ada organisme-organisme yang menguasai malam.
Dilihat dari cara kerja alam semesta, seperti kebiasaan makhluk-makhluk di bumi dalam menjalankan fungsi ekologinya, terdapat pola-pola yang bisa dibaca oleh akal pikiran manusia. Semua makhluk seakan-akan telah memiliki tupoksi dan sedang berupaya untuk terus menjalankan tupoksinya masing-masing.
Perhatian saja rantai makanan, sistem peredaran darah, sistem antibodi, dan sistem-sistem lainnya yang bekerja di dalam tubuh organisme, bagaimana tumbuhan bekerja dengan memberikan pasokan makanan untuk omnivor dan herbivor, serta menyediakan oksigen bagi semua makhluk yang membutuhkannya, hingga bagaimana para bakteri yang juga bekerja sesuai fungsinya, mereka saling memberikan pelayanan tanpa henti dan tanpa adanya pembangkangan terhadap tupoksi yang telah diberikan. Alam semesta dengan sifat statisnya membuat manusia dapat mempelajari dan memahami setiap pola yang terlihat dalam aktivitas-aktivitas organisme yang terjadi secara berulang.
Mereka saling terikat satu sama lain, ketika ada satu organisme yang hilang dalam rantai makanan, maka organisme lainnya harus beradaptasi dengan perubahan tersebut untuk tetap bertahan hidup (dengan cara mereka sendiri) agar tetap dapat menjalankan fungsinya. Lalu, apa yang membuat mereka begitu giat menjalankan fungsinya?
Lebih dari sekadar sains yang bekerja, mereka seolah-olah memperlihatkan kepada kita bahwa kegiatan yang mereka lakukan adalah perintah dari sesuatu di alam semesta yang mereka patuhi kehendak dan perintah-Nya, Dia telah menjadikan mereka bekerja tanpa kenal lelah dan bosan, tidak ada dari mereka yang menolak setiap tupoksi yang telah Dia tetapkan. Ini adalah gambaran luarbiasa dari bentuk ketundukpatuhan sang budak yang melayani Sang Majikan, satu-satunya Sang Pencipta paling agung di alam semesta. Ini adalah suatu keniscayaan karena mau bagaimanapun sistem dijalankan oleh semua mahkluk telah menciptakan keseimbangan dan keharmonisan—mari namakan pola ini sebagai "Sistem Ketundukpatuhan" yang sudah kita lihat mekanismenya di alam semesta, dan ini terjadi karena mereka menaati atau tundukpatuh pada satu sistem yang diciptakan oleh satu-satunya pusat ketaatan di alam semesta.
Coba renungkan, jika yang menciptakan sistem untuk alam semesta ada banyak sehingga ada beberapa sistem, maka terjadilah pertentangan antara satu sistem dengan sistem lain yang diterapkan di satu tempat (alam semesta). Tentu saja, pada akhirnya alam semesta tidak akan mungkin seindah sekarang, jika peperangan sudah terjadi sebelum manusia diciptakan, jika Pencipta alam semesta tidak hanya ada satu. Untuk itulah, dapat kita ambil kesimpulan bahwa pencipta dan pemilik alam semesta hanya ada satu, maka sudah seharusnya setiap organisme hanya menaati satu-satunya Majikan setiap organisme, yakni Sang Maha Kuasa.
Dia bukan hanya mencipta, tetapi Dia juga menciptakan mekanisme kerja bagi makhluk ciptaan-Nya agar mereka bekerja sesuai dengan kehendak-Nya. Mereka bekerjasama untuk melayani manusia yang sudah sepatutnya menjadi pelayan paling dekat dengan Sang Pencipta alam semesta.
Dia menciptakan aturan yang telah berlaku dan dijalankan oleh organisme hidup di alam semesta, sistem yang berlaku pada alam tidak pernah berubah (siklus yang berulang), jika manusia memiliki majikan yang berbeda dengan organisme lain—padahal yang menciptakan manusia dan organisme lain adalah satu, maka manusia akan bertentangan dengan alam dan menjadi rusak bahkan menjadi perusak alam yang sudah bekerja sesuai sistem. Manusia akan menjadi makhluk perusak, manakala tidak tahu dan ingat untuk apa dia diciptakan.
Pertanyaannya, apakah ada pola yang sama (berupa siklus) yang menghubungkan antara manusia dengan Sang Pencipta dalam kehidupan manusia? Dan apakah sistem ketundukpatuhan yang berlaku di alam semesta juga berlaku di alam psiko-sosial manusia? Lalu, apa manusia memiliki tupoksi yang membuat manusia dapat berpartisipasi dalam sistem ketundukpatuhan ciptaan-Nya seperti makhluk lain? Tunggu jawabannya pada artikel setelah ini.

