Benua Post Nusantara, Pacitan - Kondisi Sungai Ngadirojo yang melintasi wilayah Dusun Prancak, Desa Cokrokembang, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, kini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Erosi yang terus terjadi membuat jarak antara aliran sungai dan permukiman warga semakin menipis, memicu kecemasan masyarakat akan potensi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Di lingkungan RT 04/RW 03 Dusun Prancak, situasi bahkan disebut sudah dalam kondisi kritis. Tebing sungai yang sebelumnya masih menyisakan ruang aman kini tergerus hingga hanya menyisakan sekitar satu meter dari badan jalan dan pemukiman warga.
Tokoh masyarakat setempat, Bonasir, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut sudah sangat mendesak untuk segera ditangani oleh pemerintah maupun instansi terkait.
“Bahwa kondisi saat ini Sungai Ngadirojo yang berada di lingkungan kami sudah sangat kritis dan membutuhkan penanganan segera. Jaraknya sudah sangat dekat dengan pemukiman warga, kurang lebih hanya sekitar satu meter dari badan jalan,” ujar Bonasir saat diwawancarai wartawan, pada Rabu 29 April 2026.
Ia menambahkan, jika tidak segera dilakukan penanganan serius, potensi jebolnya tanggul atau longsornya tebing sungai bisa menimbulkan bencana besar, khususnya bagi warga Dusun Prancak dan wilayah di sekitarnya.
Menurut Bonasir, dampak yang ditimbulkan tidak hanya akan dirasakan oleh masyarakat setempat, tetapi juga sejumlah fasilitas umum dan instansi penting yang berada di sepanjang aliran sungai tersebut. Di antaranya adalah SMP Negeri 1 Ngadirojo, Kantor Kecamatan Ngadirojo, Polsek Ngadirojo, Koramil Ngadirojo, hingga kantor kawedanan dan instansi lainnya.
“Apabila terjadi jebolnya tanggul, maka dampaknya akan sangat luas. Tidak hanya warga, tapi juga fasilitas pendidikan dan instansi pemerintahan di bawah aliran sungai akan terkena imbasnya,” tegasnya.
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, intensitas curah hujan yang tinggi kerap membuat debit air Sungai Ngadirojo meningkat drastis. Arus deras yang menghantam tebing sungai secara terus-menerus mempercepat proses pengikisan tanah, memperparah kondisi yang sudah rentan.
Warga setempat mengaku setiap musim hujan datang, rasa was-was selalu menghantui. Mereka khawatir suatu saat tanggul alami yang tersisa tidak lagi mampu menahan tekanan air, sehingga berujung pada banjir bandang atau longsor yang mengancam keselamatan.
Bonasir menyebut, masyarakat sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah desa. Pihak desa pun, lanjutnya, sudah berupaya meneruskan laporan ke pemerintah daerah kabupaten Pacitan serta instansi terkait.
Namun hingga saat ini, belum ada tindakan nyata di lapangan.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelumnya sudah pernah ada tindakan darurat dari pihak (BBWS) Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dengan memasang jumbo bag untuk mengalihkan arus sungai. Namun upaya tersebut tidak bertahan lama karena derasnya arus, hingga akhirnya kembali jebol dan kondisi sungai tetap mengancam permukiman warga.
“Pemerintah desa sudah berupaya melaporkan ke pemerintah daerah dan pihak terkait, tetapi sampai sekarang belum ada penanganan. Ini yang membuat warga semakin gelisah,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan dengan langkah konkret, bukan sekadar wacana atau survei semata. Menurutnya, solusi jangka panjang seperti pembangunan tanggul permanen atau bolder sangat dibutuhkan untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Kami sebagai tokoh masyarakat sangat berharap ada penanganan serius, seperti pembangunan tanggul permanen atau bolder di wilayah kami. Dengan begitu warga bisa merasa tenang dan tidak terus-menerus dihantui ancaman banjir,” kata Bonasir.
Selain itu, ia juga meminta agar instansi terkait tidak menunggu hingga terjadi bencana terlebih dahulu baru bertindak. Menurutnya, langkah pencegahan jauh lebih penting dan lebih murah dibandingkan penanganan pascabencana.
Kondisi Sungai Ngadirojo di Dusun Prancak ini menjadi gambaran nyata bagaimana infrastruktur pengendali banjir di wilayah pedesaan masih membutuhkan perhatian serius. Minimnya penanganan yang cepat berpotensi memperbesar risiko kerugian, baik secara materiil maupun keselamatan jiwa.
Di sisi lain, warga berharap suara mereka tidak lagi diabaikan. Mereka menginginkan kehadiran negara benar-benar dirasakan, terutama dalam situasi yang menyangkut keselamatan banyak orang.
“Kami tidak meminta yang berlebihan, hanya ingin hidup tenang tanpa rasa takut. Sungai ini dulu sumber kehidupan, tapi sekarang justru menjadi ancaman,” pungkas Bonasir.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah daerah kabupaten Pacitan terkait rencana penanganan Sungai Ngadirojo di wilayah tersebut. Warga pun hanya bisa berharap, sebelum bencana datang, langkah nyata segera diwujudkan.(*)
Penulis : Iwan