Empat Nama Masuk Gelanggang Ketua FPPA Pacitan, Satu Kursi dan Pertarungan Gagasan
0 menit baca
Benua Post Nusantara, Pacitan - Bursa pemilihan Ketua Forum Pewarta Pacitan (FPPA) periode mendatang mulai memasuki babak baru. Jika sebelumnya konstelasi hanya disebut mengarah pada dua nama, kini empat wartawan senior mulai mencuat dalam bursa kepemimpinan organisasi tersebut.
Empat nama yang muncul yakni Sutikno alias Gustik, Rojihan, Joko Wiyono alias Sohor, dan Agus Setyo Wibowo alias Doyok.
Keempatnya memiliki pengalaman di dunia jurnalistik sekaligus pernah bersinggungan dengan dinamika organisasi kewartawanan di Kabupaten Pacitan.
Sutikno alias Gustik merupakan Ketua FPPA yang masih menjabat. Dalam kontestasi mendatang, ia membawa tagline “Mewujudkan Insan Pers yang Bermartabat dan Sejahtera.”
Sementara Rojihan disebut siap maju dengan membawa visi dan misi yang diarahkan pada kemajuan organisasi serta masa depan wartawan di Kabupaten Pacitan.
Nama Joko Wiyono alias Sohor juga masuk dalam bursa. Begitu pula Agus Setyo Wibowo alias Doyok yang memiliki pengalaman sebagai mantan Ketua FPPA sebelum kepemimpinan organisasi dilanjutkan oleh Gustik.
Munculnya empat nama membuat kontestasi Ketua FPPA mendatang tidak sekadar menjadi persoalan pergantian kepemimpinan.
Lebih dari itu, pemilihan tersebut berpotensi menjadi ruang untuk menguji gagasan tentang ke mana organisasi wartawan di Pacitan akan diarahkan di tengah perubahan ekosistem media.
Dunia jurnalistik mengalami perubahan yang cepat. Media digital berkembang, pola konsumsi informasi berubah, arus informasi semakin deras, sementara teknologi kecerdasan buatan mulai masuk ke berbagai lini kerja jurnalistik.
Kondisi tersebut menghadirkan tantangan sekaligus tuntutan baru bagi organisasi wartawan.
Profesionalisme, peningkatan kapasitas, perlindungan profesi, kesejahteraan anggota, solidaritas, serta independensi jurnalistik menjadi sejumlah persoalan yang tidak dapat dilepaskan dari masa depan organisasi.
Karena itu, kontestasi empat kandidat tidak cukup hanya dilihat dari siapa yang memiliki pengalaman atau popularitas.
Yang lebih penting adalah apa yang ditawarkan kepada anggota FPPA.
Gustik sebagai petahana membawa gagasan mengenai insan pers yang bermartabat dan sejahtera.
Rojihan menawarkan visi mengenai kemajuan organisasi dan masa depan wartawan.
Sementara Sohor dan Doyok membawa pengalaman panjang dalam perjalanan jurnalistik maupun organisasi kewartawanan di Pacitan.
Namun, visi dan tagline pada akhirnya harus diterjemahkan menjadi program yang konkret.
Pertanyaan yang kemudian muncul cukup sederhana.
Apa yang akan dilakukan setelah terpilih?
Bagaimana meningkatkan kualitas dan kompetensi wartawan?
Bagaimana memperkuat organisasi?
Bagaimana menghadapi perubahan teknologi dan transformasi digital?
Bagaimana memperjuangkan kesejahteraan anggota?
Bagaimana memperkuat solidaritas antar wartawan?
Dan yang tidak kalah penting, bagaimana menjaga independensi serta daya kritis pers dalam menjalankan fungsi kontrol sosial?
Pemilihan Ketua FPPA pada akhirnya hanya akan menghasilkan satu ketua.
Namun, proses menuju kursi tersebut akan menjadi ruang bagi anggota untuk melihat rekam jejak, gagasan, visi, serta program yang ditawarkan masing-masing kandidat.
Petahana memiliki pengalaman selama menjalankan kepemimpinan yang dapat menjadi bahan evaluasi organisasi.
Sementara kandidat lainnya memiliki ruang untuk menawarkan gagasan perubahan yang nantinya dapat diuji melalui proses organisasi.
Karena itu, kontestasi tersebut idealnya tidak berhenti pada pertarungan figur.
Yang jauh lebih penting adalah pertarungan gagasan.
Organisasi wartawan membutuhkan kepemimpinan yang mampu membaca perubahan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar jurnalistik.
Sebab wartawan bukan semata-mata pekerja informasi. Kerja pers juga memiliki fungsi sosial untuk menghadirkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan sekaligus menjalankan kontrol sosial melalui jurnalistik yang profesional.
Kini empat nama mulai masuk gelanggang.
Gustik. Rojihan. Sohor. Doyok.
Empat wartawan senior.
Empat latar pengalaman.
Empat kemungkinan arah gagasan.
Namun hanya satu kursi Ketua FPPA yang tersedia.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar dalam kontestasi ini bukan hanya siapa yang akan memimpin FPPA, melainkan FPPA Pacitan akan dibawa menuju perubahan seperti apa.
Jawabannya akan ditentukan melalui proses organisasi dan pilihan para anggota.
Sebab ketika empat nama mulai masuk gelanggang, kontestasi Ketua FPPA bukan lagi sekadar tentang perebutan kursi kepemimpinan.
Ini tentang gagasan apa yang akan menentukan masa depan organisasi wartawan Pacitan.(*)
Penulis : Iwan

