Disbudpar Kota Cirebon Proyeksikan Potensi di Harjamukti Untuk Pengembangan Kawasan Wisata Religi dan Pusat Manasik Haji Jawa Barat -->

Live berita akrual

Monetag_ads

Disbudpar Kota Cirebon Proyeksikan Potensi di Harjamukti Untuk Pengembangan Kawasan Wisata Religi dan Pusat Manasik Haji Jawa Barat

11/01/26


CIREBON — Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, S.Sos., melakukan kunjungan silaturahmi sekaligus pertemuan awal dalam rangka penjajakan rencana Pengembangan Kawasan Wisata Religi di wilayah Kecamatan Harjamukti. Kegiatan tersebut berlangsung di salah satu tempat bersejarah, Masjid Agung Syaikh Anwarudin Kriyan, di lingkungan Pondok Pesantren Kebon Syarif Cibogo yang berlokasi di Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jumat (9/1/2026).



Dalam kunjungan tersebut, Agus Sukmanjaya bertemu langsung dengan KH. Ma’dun, pimpinan Pondok Pesantren Kebon Syarif Cibogo. KH. Ma’dun diketahui merupakan keponakan asli dari Mbah Fanani yang lebih dikenal sebagai Pertapa Deng, sosok ulama dan tokoh spiritual yang memiliki pengaruh historis di wilayah tersebut.



Masjid Agung Syaikh Anwarudin Kriyan sendiri merupakan bangunan bersejarah yang dibangun pada era kolonial Belanda. Meski hingga kini pembangunannya baru mencapai sekitar 50 persen dan masih membituhkan pendanaan dari para donatur, masjid ini memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki masjid lain pada umumnya. Selain Arsitektur masjid memadukan tiga unsur budaya besar, yakni Jawa, Tionghoa, dan Timur Tengah, di Masjid ini terdapat ornamen-ornamen pada dinding yang tidak lazim seperti keris serta peralatan dapur tradisional yang sarat makna filosofis.


Secara historis, masjid ini pernah berdiri pada masa penjajahan, namun pembangunannya sempat dihentikan oleh pemerintah kolonial Belanda karena dikhawatirkan menjadi pusat permusyawaratan para ulama dan pejuang dalam melawan penjajah. Kini, melalui upaya keluarga KH. Ma’dun bersama masyarakat setempat, berupaya masjid tersebut kembali dilanjutkan agar dapat berdiri utuh dan dimanfaatkan untuk kepentingan umat.


Agus Sukmanjaya menyampaikan bahwa kunjungannya tidak hanya sebatas silaturahmi, tetapi juga sebagai bagian dari survei lapangan dan pengenalan program perencanaan Pengembangan Kawasan Pariwisata Kota Cirebon di awal tahun 2026. Kawasan yang direncanakan meliputi wilayah Kelurahan Kalijaga hingga Argasunya, dengan memperhatikan sejumlah potensi wisata religi yang saling terhubung.


Salah satu awal titik penting dalam kawasan tersebut adalah Petilasan Keramat Sunan Kalijaga, yang sejak lama menjadi tujuan wisata ziarah dari berbagai daerah. Meski tidak seramai Makam Sunan Gunung Jati, lokasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan, terlebih karena nilai sejarahnya yang kuat serta keberadaan populasi kera yang menjadi daya tarik tersendiri.


Tak jauh dari lokasi petilasan, terdapat Lapangan Kebon Pelok yang baru-baru ini telah dibersihkan oleh Pemerintah Kota Cirebon dari lapak pedagang liar. Lapangan tersebut dinilai dapat dikembalikan fungsinya sebagai ruang terbuka publik sebagai sarana olahraga dan kegiatan seni budaya.


Potensi lainnya yang dinilai unik adalah Kampung Benda Kerep, yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Lapangan Kebon Pelok. Kampung yang dikenal sebagai kampung santri ini hingga kini masih memegang teguh adat dan tradisi leluhur. Kesederhanaan dalam berpakaian sehari-hari warganya, penggunaan kopiah dan sarung menjadi ciri khas tersendiri, serta penolakan terhadap penggunaan perangkat modern seperti speaker, televisi, dan radio, yang masih bertahan hingga sekarang, meskipun aliran listrik telah masuk ke wilayah tersebut.


Melihat potensi tersebut, Disbudpar Kota Cirebon menilai Kecamatan Harjamukti tidak hanya layak dikembangkan sebagai kawasan wisata religi, tetapi juga sebagai kawasan terpadu. Dengan tersedianya lahan hingga 17 hektare membuka peluang untuk pembangunan Kampung Manasik Haji terbesar di Jawa Barat.


Perencanaan ini juga diproyeksikan berdampak positif pada kawasan penunjang lainnya, termasuk keberadaan Bandar Udara Cakravhuana yang saat ini digunakan untuk kepentingan TNI AU dan sekolah penerbangan. Ke depan, bandara tersebut dinilai berpotensi dikembangkan sebagai bandara komersial khusus pesawat kecil.


Selain itu, kawasan Galian C di sekitar Harjamukti juga berpeluang dialihfungsikan menjadi kawasan wisata adventure berbasis alam. Langkah ini dinilai dapat menjadi solusi alternatif bagi para pekerja tambang untuk beralih profesi, sekaligus menghindari risiko bencana longsor yang selama ini kerap menimbulkan korban jiwa, namun hingga kini kegiatan penambangan masih berjalan karena faktor kebutuhan hidup.


Dengan demikian, program rencana Pengembangan Kawasan Pariwisata Religi dan adventure di Kecamatan Harjamukti diharapkan tidak hanya memperkuat identitas sejarah dan spiritual Kota Cirebon, tetapi juga mendorong terbentuknya UMKM terpadu, meningkatkan taraf ekonomi masyarakat, serta membuka lapangan pekerjaan baru secara berkelanjutan.

(Eka).