BREAKING NEWS

Tradisi Leluhur Tetap Terjaga,Resepsi Pernikahan Di Cibogo Cirebon Tanpa Sound System dan Diiringi Kesenian Gembyung


KOTA CIREBON ,Benuapostnusantara.Com – Di tengah derasnya arus modernisasi yang merambah berbagai aspek kehidupan masyarakat, sejumlah tradisi budaya warisan leluhur masih tetap bertahan dan dilestarikan oleh sebagian warga Kota Cirebon. Salah satunya terlihat dalam prosesi pernikahan yang berlangsung di lingkungan keluarga besar KH. Ma'dun, pimpinan Pondok Pesantren Kebon Syarif, Cibogo, Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon, Senin (8/6/2026).





Pernikahan pasangan Aceng Ahmad Muslim dan Nok Mamah Fatimah menjadi perhatian masyarakat karena rangkaian prosesi yang dijalankan tidak seperti pesta pernikahan pada umumnya. Akad nikah dilaksanakan di Masjid Syekh Anwarudin Kriyan yang memiliki nilai sejarah dan berada di lingkungan Pondok Pesantren Kebon Syarif. Prosesi ijab kabul dipimpin oleh tokoh ulama Cirebon, KH. Muayad dari Benda Kerep, serta disaksikan dan didampingi oleh KH. Muhammad dari Benda Kerep dan KH. Ma'dun.


Sebelum pelaksanaan akad nikah, keluarga besar yang memiliki hajat terlebih dahulu melaksanakan tradisi ziarah ke makam para leluhur dan keluarga, termasuk berziarah ke makam keramat Sunan Gunung Jati. Tradisi tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus doa agar rangkaian pernikahan berjalan lancar dan mendapat keberkahan. Keesokan harinya, saat rombongan pengantin pria tiba di lokasi akad nikah, suasana semakin semarak dengan penyambutan petasan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.



Setelah akad nikah selesai dilaksanakan, kedua mempelai kemudian disandingkan di hadapan para tamu undangan dan warga sekitar yang turut hadir memberikan doa restu. Namun yang paling menarik perhatian adalah suasana resepsi yang berlangsung tanpa penggunaan perangkat elektronik modern seperti sound system, speaker, maupun hiburan musik organ tunggal yang lazim ditemukan dalam pesta pernikahan masa kini.



Sebagai gantinya, masyarakat mempertahankan kesenian tradisional Gembyung sebagai hiburan utama. Kesenian tersebut menampilkan tabuhan rebana dan lantunan syair-syair pujian Islami berbahasa Arab yang dibawakan secara langsung tanpa bantuan pengeras suara. Tradisi ini masih dipertahankan karena masyarakat di kawasan Benda Kerep dan Cibogo memegang teguh aturan adat leluhur yang melarang penggunaan alat elektronik tertentu seperti speaker, sound system, televisi, dan radio dalam kehidupan sehari-hari maupun kegiatan adat dan keagamaan.



Hingga malam hari, rangkaian resepsi masih berlanjut dengan tradisi arak-arakan keliling kampung yang diikuti oleh warga sekitar, terutama kalangan remaja dan anak-anak. Mereka membawa berbagai hiasan lampu serta miniatur kereta kencana yang dihiasi lampu warna-warni. Iring-iringan tersebut berkeliling menyusuri jalan-jalan kampung sebagai simbol berakhirnya seluruh rangkaian prosesi pernikahan sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas terselenggaranya hajatan dengan baik.




Budaya yang masih bertahan di kawasan Cibogo dan Benda Kerep ini menjadi salah satu bukti bahwa nilai-nilai tradisi, kearifan lokal, dan ajaran leluhur masih hidup di tengah masyarakat Cirebon. Di saat banyak daerah mulai meninggalkan tradisi lama, masyarakat setempat justru terus menjaga dan mewariskannya kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya yang harus dilestarikan.


Tradisi pernikahan adat bernuansa religius tersebut tidak hanya menjadi sarana mempererat hubungan keluarga dan masyarakat, tetapi juga menjadi cerminan harmonisasi antara nilai Islam, penghormatan terhadap leluhur, serta pelestarian budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad di wilayah Cirebon.

(Eka)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar