Aroma Masa Lalu di Warung Hik Ngadirojo, Sepiring Tiwul yang Tak Pernah Kehilangan Penggemar - ShockTimes
BREAKING NEWS

Aroma Masa Lalu di Warung Hik Ngadirojo, Sepiring Tiwul yang Tak Pernah Kehilangan Penggemar

Benua Post Nusantara, Pacitan - Di tengah menjamurnya aneka kuliner modern dan makanan cepat saji, sebuah warung sederhana di Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, justru menjadi tempat persinggahan yang menghadirkan kenangan masa lalu. Namanya Warung Nasi Hik, sebuah tempat makan sederhana yang masih setia menyajikan nasi tiwul, makanan tradisional yang telah menjadi bagian dari sejarah dan budaya masyarakat Pacitan.

Bagi sebagian orang, nasi tiwul bukan sekadar makanan pengganjal perut. Ia adalah pengingat tentang masa kecil, kehidupan desa yang sederhana, serta perjuangan masyarakat tempo dulu yang menjadikan tiwul sebagai makanan pokok sehari-hari.

Setiap malam, Warung Nasi Hik di Ngadirojo tampak ramai dikunjungi berbagai kalangan. Ada pekerja, pelajar, perantau yang pulang kampung, hingga orang-orang yang sengaja datang hanya untuk menikmati sensasi menyantap nasi tiwul dengan lauk sederhana.

Suasana warung yang bersahaja menjadi daya tarik tersendiri. Lampu-lampu yang menerangi warung dan deretan makanan yang tersaji mengingatkan pengunjung pada suasana angkringan tempo dulu. Tidak sedikit pelanggan yang mengaku datang karena rindu dengan cita rasa makanan tradisional yang kini mulai jarang ditemui.

Nasi tiwul yang disajikan di warung ini memiliki tekstur lembut dengan aroma khas singkong yang dikeringkan. Ketika dipadukan dengan lauk sederhana dan sambal, rasa yang dihasilkan justru memberikan kenikmatan yang sulit ditemukan pada makanan modern.

Bagi masyarakat Pacitan, tiwul memiliki makna historis yang mendalam. Pada masa lalu, makanan berbahan dasar singkong ini menjadi alternatif pengganti beras dan mampu menghidupi banyak keluarga di tengah keterbatasan. Kini, tiwul justru menjelma menjadi kuliner nostalgia yang dicari karena keunikan rasanya.

Pemilik Warung Nasi Hik di Ngadirojo, Den Fadli Purwanto, Arif Aquatic itu pun tetap mempertahankan menu-menu sederhana yang akrab di lidah masyarakat. Selain nasi tiwul, tersedia pula nasi hik, aneka sate dan gorengan, serta minuman hangat maupun dingin yang cocok menemani suasana malam.

Harga makanan di warung ini juga tergolong ramah di kantong. Seporsi nasi tiwul dibanderol Rp5 ribu, sedangkan nasi hik Rp3 ribu. Pengunjung juga dapat menikmati susu jahe seharga Rp4 ribu dan kopi seharga Rp3 ribu.

Bagi pecinta sate ala hik, tersedia tusuk telur puyuh dan tusuk jerohan dengan harga masing-masing Rp3 ribu. Sementara aneka gorengan seperti tahu, tempe, heci, bacem tempe, dan tahu goreng dijual Rp1 ribu per potong. Untuk minuman dingin, tersedia es teh, Nutrisari, dan jasjus dengan harga Rp3 ribu.

Kesederhanaan itulah yang membuat Warung Nasi Hik Ngadirojo tetap memiliki tempat di hati para pelanggannya. Di sini, orang tidak hanya datang untuk mengisi perut, tetapi juga untuk merasakan kembali sepotong kenangan tentang Pacitan tempo dulu.

Sepiring nasi tiwul di warung sederhana ini seakan menjadi bukti bahwa makanan tradisional tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Di tengah perubahan zaman, aroma tiwul masih mampu menghadirkan kehangatan, menyatukan cerita, dan menghidupkan kembali nostalgia yang tersimpan di ingatan banyak orang.(*)

Penulis : Iwan
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar