BREAKING NEWS

 


Nguri-Nguri Budoyo Jowo Melalui Tayub, Warga Sembowo Pertahankan Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

Benua Post Nusantara, Pacitan - Upaya mempertahankan kebudayaan Jawa terus dilakukan masyarakat melalui berbagai kegiatan seni tradisional. Salah satunya dilakukan warga di RT 14/RW 7, Dusun Purworejo, Desa Sembowo, Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan, melalui kegiatan kesenian tayub yang digelar di rumah Bapak Sujiran.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya nguri-nguri budoyo Jowo atau melestarikan kebudayaan Jawa agar tetap dikenal dan hidup di tengah masyarakat.

Faradila warga setempat, menyampaikan bahwa kegiatan tayub tersebut berkaitan dengan upaya menjaga budaya Jawa melalui kesenian tradisional yang masih berkembang di lingkungan masyarakat.

Menurutnya, kesenian tradisional seperti tayub memiliki ruang tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Selain menjadi bagian dari kegiatan seni dan hiburan, keberadaannya juga menjadi salah satu sarana untuk mempertahankan tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

"Kegiatan yang berlangsung di rumah Bapak Sujiran tersebut mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan. Warga dapat menyaksikan secara langsung kesenian tayub yang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Jawa," Katanya saat diwawancarai wartawan Rabu, 07 Oktober 2026.

Pelestarian budaya melalui kegiatan masyarakat dinilai penting karena keberadaan sebuah tradisi sangat bergantung pada sejauh mana masyarakat masih memberikan ruang untuk menjalankannya.

"Tayub menjadi salah satu kesenian yang hingga kini masih dikenal dalam kehidupan masyarakat Jawa. Kesenian tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan, tetapi juga memiliki hubungan dengan kehidupan sosial masyarakat yang menjadi pendukungnya," Imbuhnya.

Menurutnya, semangat nguri-nguri budoyo Jowo menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Budaya Jawa yang diwariskan oleh generasi terdahulu perlu tetap diperkenalkan dan dijaga agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

"Kegiatan di Dusun Purworejo tersebut sekaligus menjadi bentuk keterlibatan masyarakat dalam mempertahankan kesenian tradisional dari tingkat lingkungan paling bawah," Jelasnya.

Tidak harus selalu melalui agenda kebudayaan berskala besar, pelestarian budaya juga dapat dilakukan melalui kegiatan yang tumbuh dari masyarakat sendiri.

Perkembangan teknologi dan perubahan pola hiburan masyarakat membuat kesenian tradisional menghadapi tantangan dalam mempertahankan eksistensinya.

Generasi muda saat ini memiliki akses yang luas terhadap berbagai bentuk hiburan modern. Kondisi tersebut membuat keberadaan kesenian tradisional membutuhkan perhatian agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Dalam kondisi tersebut, kegiatan tayub di lingkungan masyarakat menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kembali kebudayaan Jawa.

Dia menempatkan kegiatan tersebut dalam konteks nguri-nguri budoyo Jowo, yakni menjaga agar budaya Jawa tetap memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat.

"Keberadaan kegiatan kesenian tradisional juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkumpul dan berinteraksi. Seni dalam hal ini tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial warga," Katanya.

Rumah Bapak Sujiran di Dusun Purworejo menjadi salah satu tempat berlangsungnya kegiatan tersebut. Lokasinya berada di wilayah RT 14/RW 7, Desa Sembowo, Kecamatan Sudimoro.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di tingkat dusun masih memiliki perhatian terhadap keberadaan kesenian tradisional.

Pelestarian kebudayaan pada dasarnya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga kebudayaan. Masyarakat sebagai pemilik sekaligus pelaku budaya memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungannya.

Ketika sebuah kesenian masih dimainkan dan diterima masyarakat, proses pewarisan budaya dapat terus berlangsung.

Sebaliknya, jika kesenian tradisional tidak lagi mendapatkan ruang dalam kehidupan masyarakat, keberadaannya berpotensi semakin jarang dikenal oleh generasi berikutnya.

Karena itu, kegiatan tayub yang digelar di Dusun Purworejo menjadi bagian dari upaya masyarakat mempertahankan salah satu bentuk kesenian tradisional Jawa.

Faradila menyampaikan bahwa semangat yang dibawa dalam kegiatan tersebut adalah nguri-nguri budoyo Jowo melalui tayub.

"Kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak selalu harus dipelihara melalui kegiatan formal. Tradisi dapat terus hidup ketika masyarakat secara langsung masih bersedia menjalankan, menyaksikan dan mengenalkannya kepada generasi selanjutnya," Katanya.

Bagi masyarakat, tayub bukan semata-mata pertunjukan. Kesenian tersebut juga menjadi bagian dari tradisi dan ruang pertemuan sosial yang masih memiliki tempat dalam kehidupan warga.

Dengan berlangsungnya kegiatan di lingkungan Dusun Purworejo, semangat mempertahankan budaya Jawa kembali mendapat ruang di tengah masyarakat Desa Sembowo.

Upaya tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga, dusun dan desa.

Dari ruang-ruang masyarakat itulah tradisi diwariskan dan dikenalkan kembali kepada generasi berikutnya.

"Nguri-nguri budoyo Jowo melalui tayub menjadi salah satu bentuk masyarakat Sembowo menjaga keberadaan kesenian tradisional agar tetap hidup di tengah perubahan zaman," Pungkasnya.(*)

Penulis : Iwan
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar